A. Definisi
Osteoartritis “pengapuran sendi” merupakan penyakit sendi yang karakteristik dengan menipisnya rawan sendi secara progresif, disertai dengan pembentukan tulang baru pada trabekula subkondral dan terbentuknya rawan sendi dan tulang baru pada tepi sendi (osteofit).
B. Epidemiologi
• Sering usia >60 tahun, jarang <40 tahun
• Banyak pada pria. Pada pria gejala timbul sebelum usia 45 tahun
• wanita setelah usia 55 tahun
C. Etiologi/FR
1. osteoartritis idiopatik
2. osteoartritis sekunder
a. usia
b. faktor genetik/variasi herediter
c. jenis kelamin
d. biomekanik/trauma berulang pada sendi
e. infeksi
f. perkembangan
g. kelainan metabolik dan neurologik (kegemukan)
h. diabetes
i. penyakit hormonal
j. humoral
k. faktor kebudayaan
D. Manifestasi klinis
1. nyeri pada sendi yang terkena setelah penggunaan berulang/kronik/bertahun-tahun
2. peradangan sendi dengan gejala nyeri, bengkak , dan terbatasnya gerak sendi
3. Nyeri dan kaku sendi juga dapat terjadi setelah sendi tidak digunakan lama
4. Bila bantalan tulang rawan sudah tidak ada, akibat gesekan antar tulang nyeri dapat timbul saat istirahat atau saat sendi sedikit digerakkan
5. nyeri yang dalam, ketidaknyamanan yang sukar dilokalisasikan
6. Peradangan tulang rawan juga merangsang pertumbuhan tulang baru yang menonjol (spur, osteofit) sekitar sendi yang dapat dilihat dengan foto rontgen.
7. Keterbatasan/penurunan kecepatan dan ruang gerak aktif sendi
8. krepitasi dengan gerakan
9. efusi sendi
10. kondisi yang berat dapat terjadi deformitas tulang dan subluksasi
11. Heberden’s nodes: Distal interphalanx joint.
12. Bouchard Nodes: Proximal interphalanx Joint
13. 3 marker perubahan radiografis:
a. adanya penyempitan spatium kartilago
b. peningkatan densitas tulang subchondral
c. adanya osteofit
14. Sendi yang mengalami osteoartritis dapat lebih dari satu. Sendi yang sering terkena adalah sendi besar penopang berat badan seperti
1. sendi lutut
2. panggul
3. sendi tangan, jari tangan (sendi interfalang distal (DIP) dan proksimal (PIP))
4. kaki
5. tulang belakang (lumbal dan servikal)
• Wanita: sendi tangan, lutut
• pria: sendi panggul, lutut, tulang belakang
E. Patogenesis
Osteoartritis melibatkan semua jaringan yang membentuk sendi sinovial:
1. rawan sendi
2. tulang subchondral
3. tulang metafise
4. synovium
5. ligamen
6. kapsul sendi
7. otot-otot yang bekerja melalui sendi
perubahan pada OA:
1. Tulang rawan sendi
Stage I : Gangguan atau perubahan matriks kartilago.
Berhubungan dengan peningkatan konsentrasi air yang mungkin disebabkan
1. gangguan mekanik,
2. degradasi makromolekul matriks, atau
3. perubahan metabolisme kondrosit.
Awalnya konsentrasi kolagen tipe II tidak berubah, tapi
1. jaring-jaring kolagen dapat rusak dan
2. konsentrasi aggrecan menurun dan
3. derajat agregasi proteoglikan menurun.
Stage II : Respon kondrosit terhadap gangguan atau perubahan matriks.
Ketika kondrosit mendeteksi gangguan atau perubahan matriks, kondrosit berespon dengan meningkatkan sintesis dan degradasi matriks, serta berproliferasi. Respon ini dapat
1. menggantikan jaringan yang rusak
2. mempertahankan jaringan
3. meningkatkan volume kartilago
Respon ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun
Stage III : Penurunan respon kondrosit.
Kegagalan respon kondrosit mengakibatkan kerusakan tulang rawan sendi disertai dan diperparah oleh penurunan respon kondrosit.
Penyebab penurunan respon ini belum diketahui, namun diperkirakan akibat
1. kerusakan mekanis pada jaringan
2. kerusakan kondrosit
3. downregulasi respon kondrosit terhadap sitokin anabolik.
Perubahan tulang rawan :
Kehilangan proteoglikan dari matriks karena sudah kehilangan pendukungnya akan lembek, chondromalacia.
• Unmasked friksi fungsi sendi pd foto terlihat sobekan-sobekan seperti rambut pd kartilago, fisura dan fibrilasi.
• Normal sendi putih kebiru-biruan yg licin, mulus.
2. Perubahan Tulang
Perubahan tulang subchondral yang mengikuti degenerasi tulang rawan sendi meliputi
1. peningkatan densitas tulang subchondral akibat dari pembentukan lapisan tulang baru pada trabekula
2. pembentukan rongga-rongga yang menyerupai kista yang mengandung jaringan
a. myxoid
b. fibrous
c. kartilago
3. Pada stadium akhir dari penyakit, tulang rawan sendi telah rusak seluruhnya, sehingga tulang subchondral yang tebal dan padat kini berartikulasi dengan permukaan tulang "denuded" dari sendi lawan.
4. Remodeling tulang disertai dengan kerusakan tulang sendi rawan mengubah bentuk sendi dan dapat mengakibatkan shortening dan ketidakstabilan tungkai yang terlibat.
3. Jaringan Periartikuler
Kerusakan tulang rawan sendi mengakibatkan perubahan sekunder dari
1. Membran synovium mengalami reaksi inflamasi ringan-sedang dan dapat berisi fragmen-fragmen dari tulang rawan sendi
2. Ligamen contracted
3. Kapsul contracted
4. Otot yang menggerakkan sendi contracted, atropi otot cz kurangnya penggunaan sendi dan penurunan ROM (kekakuan sendi dan kelemahan tungkai)
Tulang rawan (bantalan tulang) mengalami degenerasi/kerusakan/aus diikuti dengan pertumbuhan osteofit, penebalan tulang subkondral, peradangan sinovium, dan kerusakan ligamen tahap lanjut bantalan tulang rawan hilang sama sekali gesekan antar tulang sendi.
F. Penegakan diagnosis
1. Anamnesis
a. nyeri pada sendi yang terkena setelah penggunaan berulang/kronik/bertahun-tahun
b. aktivitas
c. perjalanan penyakit
d. riwayat keluarga
e. riwayat trauma
2. Pemeriksaan fisik
a. peradangan sendi dengan gejala nyeri (+), bengkak , dan terbatasnya gerak sendi
b. Keterbatasan/penurunan kecepatan dan ruang gerak aktif sendi
c. krepitasi dengan gerakan
d. efusi sendi
e. nodul herbenden
f. kondisi yang berat dapat terjadi deformitas tulang dan subluksasi
3. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium
b. Artrosentesis: cairan sinovial viscositas normal,tes musin normal, leukosit <2000/m3, mononuklear
c. Radiologi
3 marker perubahan radiografis:
1) adanya penyempitan spatium kartilago
2) peningkatan densitas tulang subchondral
3) adanya osteofit
d. CT scanning tulang dan MRI akan sangat mambantu menilai stadium awal penyakit degeneratif sendi, tapi pemeriksaan ini jarang diperlukan untuk menegakkan diagnosis
G. DD
OA Gout Osteoporosis Fibromyalgia RA SLE
Usia 50-80 30-80 >50 >18, setengah baya 30-80 -
Gender Wanita Laki-laki wanita wanita wanita Wanita
Morning stifness + - - + ++ -
Redness sign - + - - + -
Swollen - + - - + -
Aktivitas Kurang gerak - Kurang gerak Banyak gerak Banyak gerak -
Lokasi nyeri Sendi penopang tubuh, sendi jari tangan Sendi ibu jari kaki, sendi metatarsofalangeal Di pinggul, sendi vertebra T12-L1 Otot leher, bahu, bawah pinggul dan punggung Sendi pergelangan tangan, sendi jari tangan (metacarpophalangeal, interfalang proximal) ?
Nyeri bertahap Tiba-tiba Bertahap saat gerak Di titik tertentu bertahap -
H. Penatalaksanaan
Tujuan:
mengurangi nyeri , radang sendi, memperbaiki dan mempertahankan fungsi sendi
1. Bila nyeri tidak ada atau nyeri sangat ringan maka obat untuk nyeri tidak dibutuhkan
2. bila ada keluhan nyeri: parasetamol
3. Bila ada gejala peradangan sendi: obat penekan radang misalnya celebrex, etodolak, atau diklofenak.
o First line: NSAID termasuk COX-2 Inhibitor
o Second line:
Nutrisi intra-artikular(Glukosamin, chondroitin sulfat)
Injeksi intra-artikular (Asamhialuronat)
4. Pada keadaan berat: menyuntikkan kortikosteroid langsung ke dalam sendi yang sakit, namun hal ini tidak boleh sering dilakukan karena dapat merusak sendi.
5. Supportif:
a. mengistirahatkan sendi
b. mengurangi tekanan berlebihan pada sendi (misalnya mengurangi berat badan pada penderita osteoartritis lutut atau panggul)
c. fisioterapi
6. Pembedahan Ada 2 tipe
a. Realignment osteotomi
Permukaan sendi direposisikan dengan cara memotong tulang dan merubah sudut dari weightbearing. Tujuan : Membuat karilago sendi yang sehat menopang sebagian besar berat tubuh. Dapat pula dikombinasikan dengan ligamen atau meniscus repair
b. replacement joint/Arthroplasty
Permukaan sendi yang arthritis dipindahkan, dan permukaan sendi yang baru ditanam. Permukaan penunjang biasanya terbuat dari logam yang berada dalam high-density polyethylene.
1) Partial replacement/unicompartemental
2) High tibial osteotmy: orang muda
3) Patella &condyle resurfacing
4) Minimally constrained total replacement : stabilitas sendi dilakukan sebagian oleh ligament asli dan sebagian oleh sendi buatan
5) Cinstrained joint: fixed hinges: dipakai bila ada tulang hilang&severe instability
Indikasi total knee replacement:
1) Nyeri
2) Deformitas
3) Instability
4) Akibat dari Rheumatoid atau osteoarthritis
Kontraindikasi:
1) Non fungsi otot ektensor
2) Neuromuscular dysfunction
3) Infection
4) Neuropathic Joint
5) Prior Surgical fusion
Keuntungan total knee replacement:
1) Mengurangi nyeri
2) Meningkatkan mobilitas dan gerakan
3) Koreksi deformitas
4) Menambah kekuatan kaki (dengan latihan)
5) Meningkatkan kualitas hidup
Komplikasi:
1) Deep vein thrombosis
2) Infeksi
3) Loosening
4) Problem patella: rekuren sublukssasi/dislokasi, loosening prostetic component, fraktur, catching soft tissue
5) Tibial tray wear
6) Peroneal palsy
7) Fraktur supracondyl femur
I. Komplikasi
Deformitas sendi
J. Prognosis
Dubia ad bonam
Nyeri bisa diobati. Penyakit berjalan lambat karena sendi harus menanggung beban dan sering
Minggu, 20 Juni 2010
ASFIKSIA NEONATORUM
A. Definisi
Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan, teratur dan adekuat.
B. Epidemiologi
• Asfiksia merupakan penyebab utama kematian pada neonatus
• Di negara maju, asfiksia menyebabkan kematian neonatus 8-35%
• Di daerah pedesaan Indonesia 31-56,5%
• Insidensi asfiksia pada menit 1= 47/1000 lahir hidup dan pada menit 5= 15,7/1000 lahir hidup
C. Etiologi/FR
1. Asfiksia intra uterin
2. Bayi kurang bulan
3. Obat-obat yang diberikan/diminum oleh ibu
4. Penyakit neuromuscular bawaan (congenital)
5. Cacat bawaan
6. Hipoksia intrapartum
Faktor predisposisi:
1. Faktor dari ibu
a. gangguan his
b. hipotensi mendadak pada ibu
c. hipertensi pada eklamsia
d. gangguan mendadak plasenta
2. faktor dari janin
a. gangguan aliran darah dalam tali pusat karena tekanan tali pusat
b. depresi pernafasan
c. ketuban keruh/mekonium
D. Klasifikasi
Berdasar saat kejadian
1. Antepartum
2. Intrapartum
3. postpartum
Derajat Berat Ringannya Asfiksia
4. Normal : nilai APGAR 7 – 10
5. Asfiksia sedang : nilai APGAR 4 – 6
6. Asfiksia berat : nilai APGAR 0 – 3
E. Manifestasi klinis
1. Hipoksemia
2. Hiperkarbia
3. Asidosis
4. Nilao APGAR 0-3 menit ke 5
5. Apneu primer
a. Pernapasan cepat
b. Denyut nadi menurun
c. Tonus neuromuskuler menurun
6. Apneu sekunder: bila asfiksia berlanjut
a. Pernapasan megap-megap yang dalam
b. Pernapasan makin lama makin lemah
c. Denyut jantung terus menurun
d. Bayi terlihat lemah/pasif
7. Sianosis
8. Pucat
9. Penurunan respon terhadap stimulus
10. Neurologi: kejang, hipotoni, koma, ensefalopati hipoksik iskemi
11. Disfungsi multiorgan
F. Patogenesis
Proses kelahiran selalu menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara pada bayi (asfiksia transien) merangsang kemoreseptor pusat pernafasan “Primary gasping” napas pertama udara masuk alveoli dan cairan paru diabsorbsi oleh jar paru napas ke dua seluruh alveoli isi udara ekspansi paru dan peningkatan tekanan O2 alveoli turun resistensi vaskuler paru meningkat aliran darah ke paru
asfiksia berat usaha bernafas tidak tampak periode apnu kedua (Secondary apnea)
ggn pertukaran gas asidoris respiratorik G3 berlanjut metabolisme anaerobik (glikolisis) glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkurang terbentuk asam organik asidosis metabolik menurun sel jaringan termasuk otot jantung kelemahan jantung dan pengisian udara alveolus inadekuat tingginya resistensi pembuluh darah paru sirkulasi darah ke paru dan ke sistem tubuh lain akan mengalami gangguan kerusakan sel otak kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi selanjutnya.
G. Penegakan diagnosis
1. Anamnesis
a. Cukup bulan
b. Menagis
c. Tonus otot
d. Warna ketuban
e. Warna kulit
2. Pemeriksaan fisik
a. Warna kulit
b. Pernapasan
c. Detak jantung
d. APGAR
Nilai APGAR (Appearance, Pulse, Grimace, Activity, dan Reflex ).
lima unsur yang dinilai
1. frekuensi denyut jantung
2. usaha napas
3. tonus otot
4. reflek
5. warna
a. Penilaian satu menit setelah lahir : untuk menilai derajat aspiksi, menentukan perlu tidaknya tindakan resusitasi yang lebih aktif
b. Penilaian lima menit setelah lahir : untuk menentukan prognosis, menilai kemungkinan masalah yang akan muncul
Kriteria 0 1 2
Activity
(tonus otot) Lumpuh Fleksi tungkai atas dan bawah Gerakan aktif
Pulse
(denyut jantung) Tidak ada < 100x/min > 100x/min
Grimace
(refleks iritabilitas) Tidak ada respon Meringis Bersin atau batuk, menjauh saat saluran napas distimulasi
Appearance
(warna kulit) Biru - abu-abu atau pucat di seluruh tubuh Badan merah, kaki dan tangan biru Seluruh tubuh dan anggota gerak merah
Respiration
(pernapasan) Tidak bernapas Menangis lemah; terdengar seperti merengek atau mendengkur; Lambat, ireguler Baik, menangis kuat
3. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium : darah rutin (asam laktat, bilirubin), analisis gas darah (Pa O2, Pa CO2, PH), serum elektrolit
b. Foto polos dada
c. USG kepala
d. Pemeriksaan fungsi paru
e. Pemeriksaan fungsi kardiovaskuler
f. Gambaran patologi
H. Penatalaksanaan
1. Inform concent
2. Siapkan
a. Tenaga/operator di sisi kepala bayi
b. Tempat: meja datar
c. Alat
• standar pencegahan infeksi (sarung tangan, kacamata, celemek)
• Obat (epinefrin, kristaloid isotonik, natrium bikarbonat, nalokson hidroksida, dekstrosa, NaCl fisiologis)
• Ambu bag (balon, sungkup, kateter suction, bulb syringe)
• Kain 3 lembar
• lampu
3. Asuhan bayi normal
a. Beri kehangatan
b. Bersihkan jalan napas
c. Keringkan
d. Nilai warna kulit
4. Langkah awal resusuitasi
a. Beri kehangatan di bawah pemancar panas/lampu
b. Posisikan kepala semiekstensi dengan 1 kain di bawah punggung
c. Bersihkan jalan napas dg kateter suction/bulb syringe: hisap lendir muluthidung
d. Keringkan dan rangsang taktil dg gosok punggung/sentil kaki
e. Reposisi kepala lg
5. Evaluasi napas, jantung, kulit
a. O2 aliran bebas
• indikasi: sianosis
• alat: selang, tabung O2 90-100%, oksimeter nadi, sungkup (menutupi dagu, mulut, hidung; jari membentuk huruf C, jari manis memfiksasi di dagu)
• sampai sianosis hilang
b. VTP dan O2 aliran bebas
• Indikasi: sianosis stlh diberi O2 aliran bebas 30 detik
c. CPAP/VTP
• indikasi: apnea, frekuensi jantung < 100 x/m • alat: ambu bag: balon, reservoa, sungkup (menutupi dagu, mulut, hidung; jari membentuk huruf C, jari manis memfiksasi di dagu) • cara: • tekanan >30 cmH2O 15-20 cmH2O
• frekuensi 40-60 x/m atau 20-30 x/30detik
• irama tekan-lepas-lepas
• setelah 30 detik nilai frekuensi jantung
d. VTP dan kompresi dada
• Indikasi: frekuensi jantung < 60 x/m stlh VTP dan O2 30 detik
• Lokasi:
• 1/3 bawah tulang dada
• Antara ujung tulang dada dan garis khayal yang menghubungkan 2 puting susu
• 2 jari di atas prosesus sifoideus
• Cara:
• Teknik ibu jari, ibu jari difleksikan : pada bayi yang kecil
• Teknik dua jari: pada bayi yang besar
• Rasio 3:1 yaitu 3x kompresi dada diikuti 1x VTP
• Tekanan dengan kedalaman 1/3 diameter AP dada
e. Obat
• Indikasi: frekuensi jantung < 60 x/m stlh diberi VTP dan kompresi dada optimal, dan O2 100%
• Epinefrin hidroklorida 1:10000
• IV 0,1-0,3 mL/kgBB = 0,01-0,03 mg/kgBB, bila mll kateter diikuti 0,5-1 mL garam fisiologis
• Mll pipaendotrakeal 0,03-0,1 mg/kgBB
• Dalam 30 detik tidak ada peningkatan FJ ulangi tiap 3-5 menit
• Naloxon
• Indikasi: depresi napas stlh FJ dan warna kulit normal, ibu mendapat narkotik 4 jam sblm persalinan
• IV/IM 0,1 mg/kg
• Na bikarbonat
• Indikasi: tidak direkomendasikan, memperbaikai asidosis intrakardiak
• IV 1-2 mEq/kg Na bikarbonat 4,2% = 0,5 mmol/L (hiperosmolar dieencerkan 1:1 dg air steril)
• Plasma expander
• Indikasi: pucat, bukti hilang darah, respon resusitasi baik
• Kristaloid isotonik: garam fisiologis, RL, darah O-negatif
• IV 10 mL/kg dg kecepatan 5-10 menit
f. Intubasi endotrakealada mekonium
I. Komplikasi
1. defisit kognitif dan motorik yang mengganggu tumbuh kembang
2. menurunkan kualitas hidup
3. Otak: hipoksik iskemik ensefalopati, edema serebri, palsi serebralis
4. Jantung dan paru: hipertensi pulmonal persisten, perdarahan paru, edema paru
5. Gastrointestinal: enterokolitis nekrotikans
6. Ginjal: tubular nekrosis akut, SIADH
7. Hematologi: DIC
J. Prognosis
Dubia ad bonam
Asfiksia Ringan : Tergantung pada kecepatan penatalaksanaan
Asfiksia Berat : Dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama kelainan saraf. Asfiksia dengan PH 6,9 dapat menyababkan kejang sampai koma dan kelainan neurologis permanen, misalnya retardasi mental.
Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan, teratur dan adekuat.
B. Epidemiologi
• Asfiksia merupakan penyebab utama kematian pada neonatus
• Di negara maju, asfiksia menyebabkan kematian neonatus 8-35%
• Di daerah pedesaan Indonesia 31-56,5%
• Insidensi asfiksia pada menit 1= 47/1000 lahir hidup dan pada menit 5= 15,7/1000 lahir hidup
C. Etiologi/FR
1. Asfiksia intra uterin
2. Bayi kurang bulan
3. Obat-obat yang diberikan/diminum oleh ibu
4. Penyakit neuromuscular bawaan (congenital)
5. Cacat bawaan
6. Hipoksia intrapartum
Faktor predisposisi:
1. Faktor dari ibu
a. gangguan his
b. hipotensi mendadak pada ibu
c. hipertensi pada eklamsia
d. gangguan mendadak plasenta
2. faktor dari janin
a. gangguan aliran darah dalam tali pusat karena tekanan tali pusat
b. depresi pernafasan
c. ketuban keruh/mekonium
D. Klasifikasi
Berdasar saat kejadian
1. Antepartum
2. Intrapartum
3. postpartum
Derajat Berat Ringannya Asfiksia
4. Normal : nilai APGAR 7 – 10
5. Asfiksia sedang : nilai APGAR 4 – 6
6. Asfiksia berat : nilai APGAR 0 – 3
E. Manifestasi klinis
1. Hipoksemia
2. Hiperkarbia
3. Asidosis
4. Nilao APGAR 0-3 menit ke 5
5. Apneu primer
a. Pernapasan cepat
b. Denyut nadi menurun
c. Tonus neuromuskuler menurun
6. Apneu sekunder: bila asfiksia berlanjut
a. Pernapasan megap-megap yang dalam
b. Pernapasan makin lama makin lemah
c. Denyut jantung terus menurun
d. Bayi terlihat lemah/pasif
7. Sianosis
8. Pucat
9. Penurunan respon terhadap stimulus
10. Neurologi: kejang, hipotoni, koma, ensefalopati hipoksik iskemi
11. Disfungsi multiorgan
F. Patogenesis
Proses kelahiran selalu menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara pada bayi (asfiksia transien) merangsang kemoreseptor pusat pernafasan “Primary gasping” napas pertama udara masuk alveoli dan cairan paru diabsorbsi oleh jar paru napas ke dua seluruh alveoli isi udara ekspansi paru dan peningkatan tekanan O2 alveoli turun resistensi vaskuler paru meningkat aliran darah ke paru
asfiksia berat usaha bernafas tidak tampak periode apnu kedua (Secondary apnea)
ggn pertukaran gas asidoris respiratorik G3 berlanjut metabolisme anaerobik (glikolisis) glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkurang terbentuk asam organik asidosis metabolik menurun sel jaringan termasuk otot jantung kelemahan jantung dan pengisian udara alveolus inadekuat tingginya resistensi pembuluh darah paru sirkulasi darah ke paru dan ke sistem tubuh lain akan mengalami gangguan kerusakan sel otak kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi selanjutnya.
G. Penegakan diagnosis
1. Anamnesis
a. Cukup bulan
b. Menagis
c. Tonus otot
d. Warna ketuban
e. Warna kulit
2. Pemeriksaan fisik
a. Warna kulit
b. Pernapasan
c. Detak jantung
d. APGAR
Nilai APGAR (Appearance, Pulse, Grimace, Activity, dan Reflex ).
lima unsur yang dinilai
1. frekuensi denyut jantung
2. usaha napas
3. tonus otot
4. reflek
5. warna
a. Penilaian satu menit setelah lahir : untuk menilai derajat aspiksi, menentukan perlu tidaknya tindakan resusitasi yang lebih aktif
b. Penilaian lima menit setelah lahir : untuk menentukan prognosis, menilai kemungkinan masalah yang akan muncul
Kriteria 0 1 2
Activity
(tonus otot) Lumpuh Fleksi tungkai atas dan bawah Gerakan aktif
Pulse
(denyut jantung) Tidak ada < 100x/min > 100x/min
Grimace
(refleks iritabilitas) Tidak ada respon Meringis Bersin atau batuk, menjauh saat saluran napas distimulasi
Appearance
(warna kulit) Biru - abu-abu atau pucat di seluruh tubuh Badan merah, kaki dan tangan biru Seluruh tubuh dan anggota gerak merah
Respiration
(pernapasan) Tidak bernapas Menangis lemah; terdengar seperti merengek atau mendengkur; Lambat, ireguler Baik, menangis kuat
3. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium : darah rutin (asam laktat, bilirubin), analisis gas darah (Pa O2, Pa CO2, PH), serum elektrolit
b. Foto polos dada
c. USG kepala
d. Pemeriksaan fungsi paru
e. Pemeriksaan fungsi kardiovaskuler
f. Gambaran patologi
H. Penatalaksanaan
1. Inform concent
2. Siapkan
a. Tenaga/operator di sisi kepala bayi
b. Tempat: meja datar
c. Alat
• standar pencegahan infeksi (sarung tangan, kacamata, celemek)
• Obat (epinefrin, kristaloid isotonik, natrium bikarbonat, nalokson hidroksida, dekstrosa, NaCl fisiologis)
• Ambu bag (balon, sungkup, kateter suction, bulb syringe)
• Kain 3 lembar
• lampu
3. Asuhan bayi normal
a. Beri kehangatan
b. Bersihkan jalan napas
c. Keringkan
d. Nilai warna kulit
4. Langkah awal resusuitasi
a. Beri kehangatan di bawah pemancar panas/lampu
b. Posisikan kepala semiekstensi dengan 1 kain di bawah punggung
c. Bersihkan jalan napas dg kateter suction/bulb syringe: hisap lendir muluthidung
d. Keringkan dan rangsang taktil dg gosok punggung/sentil kaki
e. Reposisi kepala lg
5. Evaluasi napas, jantung, kulit
a. O2 aliran bebas
• indikasi: sianosis
• alat: selang, tabung O2 90-100%, oksimeter nadi, sungkup (menutupi dagu, mulut, hidung; jari membentuk huruf C, jari manis memfiksasi di dagu)
• sampai sianosis hilang
b. VTP dan O2 aliran bebas
• Indikasi: sianosis stlh diberi O2 aliran bebas 30 detik
c. CPAP/VTP
• indikasi: apnea, frekuensi jantung < 100 x/m • alat: ambu bag: balon, reservoa, sungkup (menutupi dagu, mulut, hidung; jari membentuk huruf C, jari manis memfiksasi di dagu) • cara: • tekanan >30 cmH2O 15-20 cmH2O
• frekuensi 40-60 x/m atau 20-30 x/30detik
• irama tekan-lepas-lepas
• setelah 30 detik nilai frekuensi jantung
d. VTP dan kompresi dada
• Indikasi: frekuensi jantung < 60 x/m stlh VTP dan O2 30 detik
• Lokasi:
• 1/3 bawah tulang dada
• Antara ujung tulang dada dan garis khayal yang menghubungkan 2 puting susu
• 2 jari di atas prosesus sifoideus
• Cara:
• Teknik ibu jari, ibu jari difleksikan : pada bayi yang kecil
• Teknik dua jari: pada bayi yang besar
• Rasio 3:1 yaitu 3x kompresi dada diikuti 1x VTP
• Tekanan dengan kedalaman 1/3 diameter AP dada
e. Obat
• Indikasi: frekuensi jantung < 60 x/m stlh diberi VTP dan kompresi dada optimal, dan O2 100%
• Epinefrin hidroklorida 1:10000
• IV 0,1-0,3 mL/kgBB = 0,01-0,03 mg/kgBB, bila mll kateter diikuti 0,5-1 mL garam fisiologis
• Mll pipaendotrakeal 0,03-0,1 mg/kgBB
• Dalam 30 detik tidak ada peningkatan FJ ulangi tiap 3-5 menit
• Naloxon
• Indikasi: depresi napas stlh FJ dan warna kulit normal, ibu mendapat narkotik 4 jam sblm persalinan
• IV/IM 0,1 mg/kg
• Na bikarbonat
• Indikasi: tidak direkomendasikan, memperbaikai asidosis intrakardiak
• IV 1-2 mEq/kg Na bikarbonat 4,2% = 0,5 mmol/L (hiperosmolar dieencerkan 1:1 dg air steril)
• Plasma expander
• Indikasi: pucat, bukti hilang darah, respon resusitasi baik
• Kristaloid isotonik: garam fisiologis, RL, darah O-negatif
• IV 10 mL/kg dg kecepatan 5-10 menit
f. Intubasi endotrakealada mekonium
I. Komplikasi
1. defisit kognitif dan motorik yang mengganggu tumbuh kembang
2. menurunkan kualitas hidup
3. Otak: hipoksik iskemik ensefalopati, edema serebri, palsi serebralis
4. Jantung dan paru: hipertensi pulmonal persisten, perdarahan paru, edema paru
5. Gastrointestinal: enterokolitis nekrotikans
6. Ginjal: tubular nekrosis akut, SIADH
7. Hematologi: DIC
J. Prognosis
Dubia ad bonam
Asfiksia Ringan : Tergantung pada kecepatan penatalaksanaan
Asfiksia Berat : Dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama kelainan saraf. Asfiksia dengan PH 6,9 dapat menyababkan kejang sampai koma dan kelainan neurologis permanen, misalnya retardasi mental.
Sabtu, 19 Juni 2010
RUPTUR SERVIKS
Etiologi: robekan jalan lahir
Predisposisi:
1. Makrosomia
2. Malpresentasi
3. Partus presipitatus
4. Distosia bahu
Penegakan diagnosis:
1. Anamnesis
Manifestasi klinis:
a. Kontaksi uterus baik
b. Perdarahan terus menerus
c. Darah segar, warna merah
2. Pem fisik
Kontraksi uterus baik
Plasenta lengkap
Perlukaan dapat diraba dengan 2 jari
Inspkekulo
3. Pem. penunjang
Lab (darah rutin, gol darah, time bleeding, factor pembekuan)
DD:
1. Atonia uteri: uterus tidak kontraksi
2. Retensio plasenta
3. Rupture uteri: perdarahan intraabdomen, janin dalam cavum abdomen, syok hipovolemi
4. Hematoma: nyeri bawah perut, perdarahan pervaginam tidak terlalu banyak, KU memburuk
5. Perlukaan vagina, vulva, perineum
6. Episiotomy: robekan rapi
7. Rupture vesika urinaria: nyeri di atas simfisis, urin berdarah
8. Simfisiolisis: nyeri tekan persendian simfisis, simfisis regang
9. Ggn. Pembekuan darah
Tatalaksana:
1. Infuse dan transfuse jika perlu
2. Serviks ditarik keluar, dijahit kembali tanpa melibatkan endoserviks
3. Pasang tampon vagina selama 24 jam untuk memastikan kesembuhan dan menghentikan perdarahan
4. AB profilaksis
Komplikasi:
Infeksi
Perluasan robekan, perdarahan>>
Prognosis:
Dubia ad bonam
Predisposisi:
1. Makrosomia
2. Malpresentasi
3. Partus presipitatus
4. Distosia bahu
Penegakan diagnosis:
1. Anamnesis
Manifestasi klinis:
a. Kontaksi uterus baik
b. Perdarahan terus menerus
c. Darah segar, warna merah
2. Pem fisik
Kontraksi uterus baik
Plasenta lengkap
Perlukaan dapat diraba dengan 2 jari
Inspkekulo
3. Pem. penunjang
Lab (darah rutin, gol darah, time bleeding, factor pembekuan)
DD:
1. Atonia uteri: uterus tidak kontraksi
2. Retensio plasenta
3. Rupture uteri: perdarahan intraabdomen, janin dalam cavum abdomen, syok hipovolemi
4. Hematoma: nyeri bawah perut, perdarahan pervaginam tidak terlalu banyak, KU memburuk
5. Perlukaan vagina, vulva, perineum
6. Episiotomy: robekan rapi
7. Rupture vesika urinaria: nyeri di atas simfisis, urin berdarah
8. Simfisiolisis: nyeri tekan persendian simfisis, simfisis regang
9. Ggn. Pembekuan darah
Tatalaksana:
1. Infuse dan transfuse jika perlu
2. Serviks ditarik keluar, dijahit kembali tanpa melibatkan endoserviks
3. Pasang tampon vagina selama 24 jam untuk memastikan kesembuhan dan menghentikan perdarahan
4. AB profilaksis
Komplikasi:
Infeksi
Perluasan robekan, perdarahan>>
Prognosis:
Dubia ad bonam
PROLAPSE UTERUS
DEFINISI
Turunnya organ genitalia dar posisinya yang normal bahkan dapat keluar dari liang vagina
PREVALENSI
50%wanita yang telah melahirkan akan mengalami prolapsus alat genitalia mulai dari derajat ringan sampai berat.
Prolapsus uteri akan meningkat jumlahnya karena uasia harapan hidup wanita juga meningkat.
KLASIFIKASI
Berdasarkan lokasi dan anatomi dan tingkaat prolasusnya atau letaknya dari introitus vagina:
1. Derajat I
Bila uterus yang turun masih diatas intoitus vagina (dalam vagina)
2. Derajat II
Bila uterus yang turun telah mencapai intoitus vagina
3. Derajat III
Bila uterus yang turun telah keluar intoitus vagina
ETIOLOGI
Kelemahan otot dasar panggul
FAKTOR PREDISPOSISI
1. Paritas
2. Trauma persalinan
3. Usia
4. Hormonal
5. Keadaan yang dapat menimbulkan peningkatan tekanan intraabdominal
6. Kelainan bawaan
7. Ras
DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Cari faktor predisposisi:
Trauma persalinan, penyakit paru, obstruktif menahun, perokok, batuk kronik, obesitas
Tanda dan gejala:
a. Rasa ada benda yang menonjol/mengganjal vagina
b. Teraba ada yang keluar/menonjol di vagina
c. Rasa sakit/nyeri pinggang dan berkurang/hilang bila berbaring
d. Perasaan sering berkemih dan sedikit-sedikit
e. Perasaan kandung kemih tidak dapat dikosongkan secara puas
f. Tidak dapat menahan kencing bila batuk atau mengejan
g. Gangguan defekasi
h. Perasaan penuh di vagina/berat di ronggan panggul
i. Kesulitan untukberjalan
j. Kesulitan koitus
2. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
b. Vital sign
3. Pemeriksaan ginekologi
a. Nilai derajat prolapsus
b. Adakah sistokel/rektokel
c. Nilai keadaan serviks , ada lesi atau tidak
d. Ukur panjang serviks dengan sondase
4. Pemeriksaan penunjang
a. Lab lengkap
b. Radiologis
c. Pap smear/biopsy lesi serviks (erosi porsio, suspek keganasan)
d. IVP bila prolapsus uteri yang besar
PENATALAKSANAAN
1. Konservatif
Penderita asimtomatik dengan prolapsus alat genital derajat I dan II:
a. Latihan kegel
b. Mengobati penyakit batuk kronik
c. Mengurangi BB
d. Mengurangi keadaan yang menimbulkan peningkatan tekanan intraabdominal
2. Penggunaan pessarium
a. Penderita menolak pembedahan
b. Terdapat kontraindikasi bedah
3. Beri estrogen topical pada penderita pascamenopause
4. Operatif
a. Masa reproduksi
Bila uterus ingin dipertahankan:
• Ventro suspense
• Amputasi serviks (bila ada elongation serviks)
b. Pasca menopause
i. Seksual aktif
• Ventro fiksasi dengan mesh
• Vaginal histerektomi dengan menggantung puncak vagina
ii. Seksual tidak aktif
• Vaginal histerektomi dengan kolpokleisis
c. Bila terdapat sistokel
Kolporafi anterior dan dipergunakan Mesh
Bila ada sistokel derajat III
d. Bila terdapat rektokel
Kolporafi posterior, bila terdapat rektokel derajat III
Dilakukan kolporafi
e. Prolapsus uteri derajat III yang lama :
TVH + KA + KPR
KONTRAINDIKASI operasi histerektomi vaginal :
1. kondisi umum jelek :
a. Usia lanjut sekali
b. diabetes Melitus berat
c. penyakit jantung berat
2. pasien menolak operasi
3. mobilitas Uterus terbatas
PROGNOSIS
Rekurensi : < 1 %
KOMPLIKASI
1. Fistula ( jarang)
2. Perdarahan
3. Trauma ureter/vesiko urinaria
4. Retensio urin/gangguan berkemih
Turunnya organ genitalia dar posisinya yang normal bahkan dapat keluar dari liang vagina
PREVALENSI
50%wanita yang telah melahirkan akan mengalami prolapsus alat genitalia mulai dari derajat ringan sampai berat.
Prolapsus uteri akan meningkat jumlahnya karena uasia harapan hidup wanita juga meningkat.
KLASIFIKASI
Berdasarkan lokasi dan anatomi dan tingkaat prolasusnya atau letaknya dari introitus vagina:
1. Derajat I
Bila uterus yang turun masih diatas intoitus vagina (dalam vagina)
2. Derajat II
Bila uterus yang turun telah mencapai intoitus vagina
3. Derajat III
Bila uterus yang turun telah keluar intoitus vagina
ETIOLOGI
Kelemahan otot dasar panggul
FAKTOR PREDISPOSISI
1. Paritas
2. Trauma persalinan
3. Usia
4. Hormonal
5. Keadaan yang dapat menimbulkan peningkatan tekanan intraabdominal
6. Kelainan bawaan
7. Ras
DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Cari faktor predisposisi:
Trauma persalinan, penyakit paru, obstruktif menahun, perokok, batuk kronik, obesitas
Tanda dan gejala:
a. Rasa ada benda yang menonjol/mengganjal vagina
b. Teraba ada yang keluar/menonjol di vagina
c. Rasa sakit/nyeri pinggang dan berkurang/hilang bila berbaring
d. Perasaan sering berkemih dan sedikit-sedikit
e. Perasaan kandung kemih tidak dapat dikosongkan secara puas
f. Tidak dapat menahan kencing bila batuk atau mengejan
g. Gangguan defekasi
h. Perasaan penuh di vagina/berat di ronggan panggul
i. Kesulitan untukberjalan
j. Kesulitan koitus
2. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
b. Vital sign
3. Pemeriksaan ginekologi
a. Nilai derajat prolapsus
b. Adakah sistokel/rektokel
c. Nilai keadaan serviks , ada lesi atau tidak
d. Ukur panjang serviks dengan sondase
4. Pemeriksaan penunjang
a. Lab lengkap
b. Radiologis
c. Pap smear/biopsy lesi serviks (erosi porsio, suspek keganasan)
d. IVP bila prolapsus uteri yang besar
PENATALAKSANAAN
1. Konservatif
Penderita asimtomatik dengan prolapsus alat genital derajat I dan II:
a. Latihan kegel
b. Mengobati penyakit batuk kronik
c. Mengurangi BB
d. Mengurangi keadaan yang menimbulkan peningkatan tekanan intraabdominal
2. Penggunaan pessarium
a. Penderita menolak pembedahan
b. Terdapat kontraindikasi bedah
3. Beri estrogen topical pada penderita pascamenopause
4. Operatif
a. Masa reproduksi
Bila uterus ingin dipertahankan:
• Ventro suspense
• Amputasi serviks (bila ada elongation serviks)
b. Pasca menopause
i. Seksual aktif
• Ventro fiksasi dengan mesh
• Vaginal histerektomi dengan menggantung puncak vagina
ii. Seksual tidak aktif
• Vaginal histerektomi dengan kolpokleisis
c. Bila terdapat sistokel
Kolporafi anterior dan dipergunakan Mesh
Bila ada sistokel derajat III
d. Bila terdapat rektokel
Kolporafi posterior, bila terdapat rektokel derajat III
Dilakukan kolporafi
e. Prolapsus uteri derajat III yang lama :
TVH + KA + KPR
KONTRAINDIKASI operasi histerektomi vaginal :
1. kondisi umum jelek :
a. Usia lanjut sekali
b. diabetes Melitus berat
c. penyakit jantung berat
2. pasien menolak operasi
3. mobilitas Uterus terbatas
PROGNOSIS
Rekurensi : < 1 %
KOMPLIKASI
1. Fistula ( jarang)
2. Perdarahan
3. Trauma ureter/vesiko urinaria
4. Retensio urin/gangguan berkemih
RUPTUR UTERI
Definisi
Robekan atau diskontinuitas dinding rahim akibat dilampauinya daya regang miometrium.
Separasi komplit dinding uterus pada kehamilan dengan atau tanpa ekspulsi janin yang membahayakan ibu dan janin.
Epidemiologi
Insiden 0.7% dalam persalinan
Etiologi
1. Disproporsi janin dan panggul
2. Partus macet
3. Traumatic
Faktor risiko
1. riwayat pembedahan uterus
2. hiperstimulasi uterus
3. multiparitas versi internal atau ekstraksi
4. persalinan operatif
5. CPD
6. pemakai kokain
Klasifikasi
1. Inkomplit, tidak termasuk peritoneum
2. Komplit, termasuk peritoneum visceral
3. Dehisens, terpisahnya skar pada segmen bawah uterus tidak mencapai serosa dan jarang menimbulkan perdarahan banyak.
Manifestasi klinik
Pada uterus normal Pada uterus bekas SC
Penyebab utama: partus macet Terjadi sebelum/pada fase laten.
Insisi transversal SBR terjadi saat fase aktif atau kala II
Didahului lingkaran kontriksi (bandl’s ring) sampai umbilicus
Nyeri hebat perut bawah
Hilang kontraksi
Bentuk normal uterus gravidus
Perdarahan pervaginam
syok
Nyeri khas
sulit dikenali pada rupture inkomplet
perdarahan >>
janin bradikardi
Diagnosis
1. Anamnesis
a. keluhanan nyeri hebat perut bawah (nyeri abdomen akut), syok, perdarahan pervaginam
b. riwayat trauma
c. riwayat operasi uterus
2. Pemeriksaan fisik
a. Identifikasi faktor risiko, parut operasi, multiparitas, stimulasi uterus, persalinan operatif, CPD
b. Hipoksia atau gawat janin, perdarahan vaginal, nyeri abdominal dan perubahan kontraktilitas uterus
c. Eksplorasi uterus
3. Pemeriksaan penunjang
a. Lab: factor pembekuan
b. Kultur bakteriologi
Penatalaksanaan
1. Atasi syok dengan resusitasi cairan isotonis (ringer laktat atau garam fisiologis) 500 ml dalam 15-20 menit dan darah
2. Laparatomi untuk melahirkan anak dan plasenta
3. Reparasi uterus:
a. Wanita muda masih mengharapkan fungsi reproduksinya
b. Kondisi klinis stabil
c. Ruptur yang tidak komplikasi
d. Rekurensi 4-10%, disarankan seksio sesaria elektif pada kehamilan 36 minggu atau mauritas paru janin telah terbukti.
4. Histerektomi:
a. Fungsi reproduksi tidak diharapkan
b. Kondisi buruk yang membahayakan ibu
c. luka nekrosis luas
5. bilasan peritoneal dan pasang drain dari kavum abdomen
6. antibiotic spectrum luas
7. serum antitetanus 1500 IU/IM dan TT 0,5 ml IM
Prognosis
Bervariasi, tergantung kondisi klinis ibu dan banyaknya perdarahan
Komplikasi
1. Infeksi
2. Rupture ulangan
3. Syok
4. Kematian bayi
5. Kematian ibu
Robekan atau diskontinuitas dinding rahim akibat dilampauinya daya regang miometrium.
Separasi komplit dinding uterus pada kehamilan dengan atau tanpa ekspulsi janin yang membahayakan ibu dan janin.
Epidemiologi
Insiden 0.7% dalam persalinan
Etiologi
1. Disproporsi janin dan panggul
2. Partus macet
3. Traumatic
Faktor risiko
1. riwayat pembedahan uterus
2. hiperstimulasi uterus
3. multiparitas versi internal atau ekstraksi
4. persalinan operatif
5. CPD
6. pemakai kokain
Klasifikasi
1. Inkomplit, tidak termasuk peritoneum
2. Komplit, termasuk peritoneum visceral
3. Dehisens, terpisahnya skar pada segmen bawah uterus tidak mencapai serosa dan jarang menimbulkan perdarahan banyak.
Manifestasi klinik
Pada uterus normal Pada uterus bekas SC
Penyebab utama: partus macet Terjadi sebelum/pada fase laten.
Insisi transversal SBR terjadi saat fase aktif atau kala II
Didahului lingkaran kontriksi (bandl’s ring) sampai umbilicus
Nyeri hebat perut bawah
Hilang kontraksi
Bentuk normal uterus gravidus
Perdarahan pervaginam
syok
Nyeri khas
sulit dikenali pada rupture inkomplet
perdarahan >>
janin bradikardi
Diagnosis
1. Anamnesis
a. keluhanan nyeri hebat perut bawah (nyeri abdomen akut), syok, perdarahan pervaginam
b. riwayat trauma
c. riwayat operasi uterus
2. Pemeriksaan fisik
a. Identifikasi faktor risiko, parut operasi, multiparitas, stimulasi uterus, persalinan operatif, CPD
b. Hipoksia atau gawat janin, perdarahan vaginal, nyeri abdominal dan perubahan kontraktilitas uterus
c. Eksplorasi uterus
3. Pemeriksaan penunjang
a. Lab: factor pembekuan
b. Kultur bakteriologi
Penatalaksanaan
1. Atasi syok dengan resusitasi cairan isotonis (ringer laktat atau garam fisiologis) 500 ml dalam 15-20 menit dan darah
2. Laparatomi untuk melahirkan anak dan plasenta
3. Reparasi uterus:
a. Wanita muda masih mengharapkan fungsi reproduksinya
b. Kondisi klinis stabil
c. Ruptur yang tidak komplikasi
d. Rekurensi 4-10%, disarankan seksio sesaria elektif pada kehamilan 36 minggu atau mauritas paru janin telah terbukti.
4. Histerektomi:
a. Fungsi reproduksi tidak diharapkan
b. Kondisi buruk yang membahayakan ibu
c. luka nekrosis luas
5. bilasan peritoneal dan pasang drain dari kavum abdomen
6. antibiotic spectrum luas
7. serum antitetanus 1500 IU/IM dan TT 0,5 ml IM
Prognosis
Bervariasi, tergantung kondisi klinis ibu dan banyaknya perdarahan
Komplikasi
1. Infeksi
2. Rupture ulangan
3. Syok
4. Kematian bayi
5. Kematian ibu
Rabu, 16 Juni 2010
AKU SELALU LALAI DARI 3 NIKMAT INI
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa nikmat itu ada 3 macam.
Pertama, adalah nikmat yang nampak di mata hamba.
Kedua, adalah nikmat yang diharapkan kehadirannya.
Ketiga, adalah nikmat yang tidak dirasakan.
Itulah nikmat yang sering kita lupakan. Kita mungkin hanya tahu berbagai nikmat yang ada di hadapan kita, semisal rumah yang mewah, motor yang bagus, dsb. Begitu juga kita senantiasa mengharapkan nikmat lainnya semacam berharap agar tetap istiqomah dalam agama ini, bahagia di masa mendatang, hidup berkecukupan nantinya, dsb. Namun, ada pula nikmat yang mungkin tidak kita rasakan, padahal itu juga nikmat.
Ibnul Qoyyim menceritakan bahwa ada seorang Arab menemui Amirul Mukminin Ar Rosyid. Orang itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin. Semoga Allah senantiasa memberikanmu nikmat dan mengokohkanmu untuk mensyukurinya. Semoga Allah juga memberikan nikmat yang engkau harap-harap dengan engkau berprasangka baik pada-Nya dan kontinu dalam melakukan ketaatan pada-Nya. Semoga Allah juga menampakkan nikmat yang ada padamu namun tidak engkau rasakan, semoga juga engkau mensyukurinya.” Ar Rosyid terkagum-kagum dengan ucapan orang ini. Lantas beliau berkata, “Sungguh bagus pembagian nikmat menurutmu tadi.”
Semoga kita termasuk orang yang mensyukuri tiga macam nikmat ini.
10 HAL YANG TIDAK BERMANFAAT DAN SIA-SIA
Dari kitab Al Fawa’id, inilah hal-hal yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin saat ini. Semoga ini bisa menjadi nasehat bagi pembaca sekalian.
Ibnu Qoyyim Al Jauziyah mengatakan bahwa ada sepuluh hal yang tidak bermanfaat.
1. Memiliki ilmu namun tidak diamalkan.
2. Beramal namun tidak ikhlash dan tidak mengikuti tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
3. Memiliki harta namun enggan untuk menginfakkan. Harta tersebut tidak digunakan untuk hal yang bermanfaat di dunia dan juga tidak diutamakan untuk kepentingan akhirat.
4. Hati yang kosong dari cinta dan rindu pada Allah.
5. Badan yang lalai dari taat dan mengabdi pada Allah.
6. Cinta yang di dalamnya tidak ada ridho dari yang dicintai dan cinta yang tidak mau patuh pada perintah-Nya.
7. Waktu yang tidak diisi dengan kebaikan dan pendekatan diri pada Allah.
8. Pikiran yang selalu berputar pada hal yang tidak bermanfaat.
9. Pekerjaan yang tidak membuatmu semakin mengabdi pada Allah dan juga tidak memperbaiki urusan duniamu.
10. Rasa takut dan rasa harap pada makhluk yang dia sendiri berada pada genggaman Allah. Makhluk tersebut tidak dapat melepaskan bahaya dan mendatangkan manfaat pada dirinya, juga tidak dapat menghidupkan dan mematikan serta tidak dapat menghidupkan yang sudah mati.
Itulah sepuluh hal yang melalaikan dan sia-sia. Di antara sepuluh hal tersebut yang paling berbahaya dan merupakan asal muasal segala macam kelalaian adalah dua hal yaitu: hati yang selalu lalai dan waktu yang tersia-siakan.
Hati yang lalai akan membuat seseorang mengutamakan dunia daripada akhirat, sehingga dia cenderung mengikuti hawa nafsu. Sedangkan menyia-nyiakan waktu akan membuat seseorang panjang angan-angan. Padahal segala macam kerusakan terkumpul karena mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Sedangkan segala macam kebaikan ada karena mengikuti al huda (petunjuk) dan selalu menyiapkan diri untuk berjumpa dengan Rabb semesta alam.
Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa nikmat itu ada 3 macam.
Pertama, adalah nikmat yang nampak di mata hamba.
Kedua, adalah nikmat yang diharapkan kehadirannya.
Ketiga, adalah nikmat yang tidak dirasakan.
Itulah nikmat yang sering kita lupakan. Kita mungkin hanya tahu berbagai nikmat yang ada di hadapan kita, semisal rumah yang mewah, motor yang bagus, dsb. Begitu juga kita senantiasa mengharapkan nikmat lainnya semacam berharap agar tetap istiqomah dalam agama ini, bahagia di masa mendatang, hidup berkecukupan nantinya, dsb. Namun, ada pula nikmat yang mungkin tidak kita rasakan, padahal itu juga nikmat.
Ibnul Qoyyim menceritakan bahwa ada seorang Arab menemui Amirul Mukminin Ar Rosyid. Orang itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin. Semoga Allah senantiasa memberikanmu nikmat dan mengokohkanmu untuk mensyukurinya. Semoga Allah juga memberikan nikmat yang engkau harap-harap dengan engkau berprasangka baik pada-Nya dan kontinu dalam melakukan ketaatan pada-Nya. Semoga Allah juga menampakkan nikmat yang ada padamu namun tidak engkau rasakan, semoga juga engkau mensyukurinya.” Ar Rosyid terkagum-kagum dengan ucapan orang ini. Lantas beliau berkata, “Sungguh bagus pembagian nikmat menurutmu tadi.”
Semoga kita termasuk orang yang mensyukuri tiga macam nikmat ini.
10 HAL YANG TIDAK BERMANFAAT DAN SIA-SIA
Dari kitab Al Fawa’id, inilah hal-hal yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin saat ini. Semoga ini bisa menjadi nasehat bagi pembaca sekalian.
Ibnu Qoyyim Al Jauziyah mengatakan bahwa ada sepuluh hal yang tidak bermanfaat.
1. Memiliki ilmu namun tidak diamalkan.
2. Beramal namun tidak ikhlash dan tidak mengikuti tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
3. Memiliki harta namun enggan untuk menginfakkan. Harta tersebut tidak digunakan untuk hal yang bermanfaat di dunia dan juga tidak diutamakan untuk kepentingan akhirat.
4. Hati yang kosong dari cinta dan rindu pada Allah.
5. Badan yang lalai dari taat dan mengabdi pada Allah.
6. Cinta yang di dalamnya tidak ada ridho dari yang dicintai dan cinta yang tidak mau patuh pada perintah-Nya.
7. Waktu yang tidak diisi dengan kebaikan dan pendekatan diri pada Allah.
8. Pikiran yang selalu berputar pada hal yang tidak bermanfaat.
9. Pekerjaan yang tidak membuatmu semakin mengabdi pada Allah dan juga tidak memperbaiki urusan duniamu.
10. Rasa takut dan rasa harap pada makhluk yang dia sendiri berada pada genggaman Allah. Makhluk tersebut tidak dapat melepaskan bahaya dan mendatangkan manfaat pada dirinya, juga tidak dapat menghidupkan dan mematikan serta tidak dapat menghidupkan yang sudah mati.
Itulah sepuluh hal yang melalaikan dan sia-sia. Di antara sepuluh hal tersebut yang paling berbahaya dan merupakan asal muasal segala macam kelalaian adalah dua hal yaitu: hati yang selalu lalai dan waktu yang tersia-siakan.
Hati yang lalai akan membuat seseorang mengutamakan dunia daripada akhirat, sehingga dia cenderung mengikuti hawa nafsu. Sedangkan menyia-nyiakan waktu akan membuat seseorang panjang angan-angan. Padahal segala macam kerusakan terkumpul karena mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Sedangkan segala macam kebaikan ada karena mengikuti al huda (petunjuk) dan selalu menyiapkan diri untuk berjumpa dengan Rabb semesta alam.
Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Langganan:
Postingan (Atom)




