Minggu, 20 Juni 2010

ASFIKSIA NEONATORUM

A. Definisi
Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan, teratur dan adekuat.

B. Epidemiologi
• Asfiksia merupakan penyebab utama kematian pada neonatus
• Di negara maju, asfiksia menyebabkan kematian neonatus 8-35%
• Di daerah pedesaan Indonesia 31-56,5%
• Insidensi asfiksia pada menit 1= 47/1000 lahir hidup dan pada menit 5= 15,7/1000 lahir hidup

C. Etiologi/FR
1. Asfiksia intra uterin
2. Bayi kurang bulan
3. Obat-obat yang diberikan/diminum oleh ibu
4. Penyakit neuromuscular bawaan (congenital)
5. Cacat bawaan
6. Hipoksia intrapartum

Faktor predisposisi:
1. Faktor dari ibu
a. gangguan his
b. hipotensi mendadak pada ibu
c. hipertensi pada eklamsia
d. gangguan mendadak plasenta
2. faktor dari janin
a. gangguan aliran darah dalam tali pusat karena tekanan tali pusat
b. depresi pernafasan
c. ketuban keruh/mekonium

D. Klasifikasi
Berdasar saat kejadian
1. Antepartum
2. Intrapartum
3. postpartum

Derajat Berat Ringannya Asfiksia
4. Normal : nilai APGAR 7 – 10
5. Asfiksia sedang : nilai APGAR 4 – 6
6. Asfiksia berat : nilai APGAR 0 – 3

E. Manifestasi klinis
1. Hipoksemia
2. Hiperkarbia
3. Asidosis
4. Nilao APGAR 0-3 menit ke 5
5. Apneu primer
a. Pernapasan cepat
b. Denyut nadi menurun
c. Tonus neuromuskuler menurun
6. Apneu sekunder: bila asfiksia berlanjut
a. Pernapasan megap-megap yang dalam
b. Pernapasan makin lama makin lemah
c. Denyut jantung terus menurun
d. Bayi terlihat lemah/pasif
7. Sianosis
8. Pucat
9. Penurunan respon terhadap stimulus
10. Neurologi: kejang, hipotoni, koma, ensefalopati hipoksik iskemi
11. Disfungsi multiorgan

F. Patogenesis
Proses kelahiran selalu menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara pada bayi (asfiksia transien)  merangsang kemoreseptor pusat pernafasan  “Primary gasping”  napas pertama  udara masuk alveoli dan cairan paru diabsorbsi oleh jar paru  napas ke dua  seluruh alveoli isi udara ekspansi paru dan peningkatan tekanan O2 alveoli  turun resistensi vaskuler paru  meningkat aliran darah ke paru

asfiksia berat  usaha bernafas tidak tampak  periode apnu kedua (Secondary apnea)
ggn pertukaran gas  asidoris respiratorik  G3 berlanjut  metabolisme anaerobik (glikolisis)  glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkurang  terbentuk asam organik  asidosis metabolik  menurun sel jaringan termasuk otot jantung  kelemahan jantung dan pengisian udara alveolus inadekuat  tingginya resistensi pembuluh darah paru  sirkulasi darah ke paru dan ke sistem tubuh lain akan mengalami gangguan  kerusakan sel otak  kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi selanjutnya.

G. Penegakan diagnosis
1. Anamnesis
a. Cukup bulan
b. Menagis
c. Tonus otot
d. Warna ketuban
e. Warna kulit
2. Pemeriksaan fisik
a. Warna kulit
b. Pernapasan
c. Detak jantung
d. APGAR
Nilai APGAR (Appearance, Pulse, Grimace, Activity, dan Reflex ).
lima unsur yang dinilai
1. frekuensi denyut jantung
2. usaha napas
3. tonus otot
4. reflek
5. warna

a. Penilaian satu menit setelah lahir : untuk menilai derajat aspiksi, menentukan perlu tidaknya tindakan resusitasi yang lebih aktif
b. Penilaian lima menit setelah lahir : untuk menentukan prognosis, menilai kemungkinan masalah yang akan muncul


Kriteria 0 1 2
Activity
(tonus otot) Lumpuh Fleksi tungkai atas dan bawah Gerakan aktif
Pulse
(denyut jantung) Tidak ada < 100x/min > 100x/min
Grimace
(refleks iritabilitas) Tidak ada respon Meringis Bersin atau batuk, menjauh saat saluran napas distimulasi
Appearance
(warna kulit) Biru - abu-abu atau pucat di seluruh tubuh Badan merah, kaki dan tangan biru Seluruh tubuh dan anggota gerak merah
Respiration
(pernapasan) Tidak bernapas Menangis lemah; terdengar seperti merengek atau mendengkur; Lambat, ireguler Baik, menangis kuat

3. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium : darah rutin (asam laktat, bilirubin), analisis gas darah (Pa O2, Pa CO2, PH), serum elektrolit
b. Foto polos dada
c. USG kepala
d. Pemeriksaan fungsi paru
e. Pemeriksaan fungsi kardiovaskuler
f. Gambaran patologi


H. Penatalaksanaan

1. Inform concent
2. Siapkan
a. Tenaga/operator di sisi kepala bayi
b. Tempat: meja datar
c. Alat
• standar pencegahan infeksi (sarung tangan, kacamata, celemek)
• Obat (epinefrin, kristaloid isotonik, natrium bikarbonat, nalokson hidroksida, dekstrosa, NaCl fisiologis)
• Ambu bag (balon, sungkup, kateter suction, bulb syringe)
• Kain 3 lembar
• lampu
3. Asuhan bayi normal
a. Beri kehangatan
b. Bersihkan jalan napas
c. Keringkan
d. Nilai warna kulit
4. Langkah awal resusuitasi
a. Beri kehangatan di bawah pemancar panas/lampu
b. Posisikan kepala semiekstensi dengan 1 kain di bawah punggung
c. Bersihkan jalan napas dg kateter suction/bulb syringe: hisap lendir muluthidung
d. Keringkan dan rangsang taktil dg gosok punggung/sentil kaki
e. Reposisi kepala lg
5. Evaluasi napas, jantung, kulit
a. O2 aliran bebas
• indikasi: sianosis
• alat: selang, tabung O2 90-100%, oksimeter nadi, sungkup (menutupi dagu, mulut, hidung; jari membentuk huruf C, jari manis memfiksasi di dagu)
• sampai sianosis hilang
b. VTP dan O2 aliran bebas
• Indikasi: sianosis stlh diberi O2 aliran bebas 30 detik
c. CPAP/VTP
• indikasi: apnea, frekuensi jantung < 100 x/m • alat: ambu bag: balon, reservoa, sungkup (menutupi dagu, mulut, hidung; jari membentuk huruf C, jari manis memfiksasi di dagu) • cara: • tekanan >30 cmH2O 15-20 cmH2O
• frekuensi 40-60 x/m atau 20-30 x/30detik
• irama tekan-lepas-lepas
• setelah 30 detik nilai frekuensi jantung
d. VTP dan kompresi dada
• Indikasi: frekuensi jantung < 60 x/m stlh VTP dan O2 30 detik
• Lokasi:
• 1/3 bawah tulang dada
• Antara ujung tulang dada dan garis khayal yang menghubungkan 2 puting susu
• 2 jari di atas prosesus sifoideus
• Cara:
• Teknik ibu jari, ibu jari difleksikan : pada bayi yang kecil
• Teknik dua jari: pada bayi yang besar
• Rasio 3:1 yaitu 3x kompresi dada diikuti 1x VTP
• Tekanan dengan kedalaman 1/3 diameter AP dada
e. Obat
• Indikasi: frekuensi jantung < 60 x/m stlh diberi VTP dan kompresi dada optimal, dan O2 100%
• Epinefrin hidroklorida 1:10000
• IV 0,1-0,3 mL/kgBB = 0,01-0,03 mg/kgBB, bila mll kateter diikuti 0,5-1 mL garam fisiologis
• Mll pipaendotrakeal 0,03-0,1 mg/kgBB
• Dalam 30 detik tidak ada peningkatan FJ ulangi tiap 3-5 menit
• Naloxon
• Indikasi: depresi napas stlh FJ dan warna kulit normal, ibu mendapat narkotik 4 jam sblm persalinan
• IV/IM 0,1 mg/kg
• Na bikarbonat
• Indikasi: tidak direkomendasikan, memperbaikai asidosis intrakardiak
• IV 1-2 mEq/kg Na bikarbonat 4,2% = 0,5 mmol/L (hiperosmolar dieencerkan 1:1 dg air steril)
• Plasma expander
• Indikasi: pucat, bukti hilang darah, respon resusitasi baik
• Kristaloid isotonik: garam fisiologis, RL, darah O-negatif
• IV 10 mL/kg dg kecepatan 5-10 menit
f. Intubasi endotrakealada mekonium


I. Komplikasi
1. defisit kognitif dan motorik yang mengganggu tumbuh kembang
2. menurunkan kualitas hidup
3. Otak: hipoksik iskemik ensefalopati, edema serebri, palsi serebralis
4. Jantung dan paru: hipertensi pulmonal persisten, perdarahan paru, edema paru
5. Gastrointestinal: enterokolitis nekrotikans
6. Ginjal: tubular nekrosis akut, SIADH
7. Hematologi: DIC

J. Prognosis
Dubia ad bonam
Asfiksia Ringan : Tergantung pada kecepatan penatalaksanaan
Asfiksia Berat : Dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama kelainan saraf. Asfiksia dengan PH 6,9 dapat menyababkan kejang sampai koma dan kelainan neurologis permanen, misalnya retardasi mental.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar